<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Thewomyn &#8211; The Womyn</title>
	<atom:link href="https://thewomyn.com/tag/thewomyn/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://thewomyn.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Jul 2021 04:57:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://thewomyn.com/wp-content/uploads/2021/03/cropped-favico-32x32.png</url>
	<title>Thewomyn &#8211; The Womyn</title>
	<link>https://thewomyn.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Yuk Intip Formula Menggeluti Dunia Videografi dari Nur Rahmah Fadiyah</title>
		<link>https://thewomyn.com/2021/07/19/yuk-intip-formula-menggeluti-dunia-videografi-dari-nur-rahmah-fadiyah/</link>
					<comments>https://thewomyn.com/2021/07/19/yuk-intip-formula-menggeluti-dunia-videografi-dari-nur-rahmah-fadiyah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dhea Noveria]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2021 04:57:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[TheWomynpreneur Talk]]></category>
		<category><![CDATA[nur rahmah fadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[the womynpreneur talk]]></category>
		<category><![CDATA[Thewomyn]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thewomyn.com/?p=1213</guid>

					<description><![CDATA[Kini, tidak sedikit wanita yang terjun ke dunia pekerjaan yang didominasi oleh pria. Beberapa diantaranya seperti pilot, fotografer, bartender, dan masih banyak lagi. Kondisi yang &#8230; ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-text-align-justify">Kini, tidak sedikit wanita yang terjun ke dunia pekerjaan yang didominasi oleh pria. Beberapa diantaranya seperti pilot, fotografer, bartender, dan masih banyak lagi. Kondisi yang sama juga dihadapi oleh Kak Nur Rahmah Fadiyah atau yang lebih kerab disapa dengan Kak Amha. Sebagai seorang videografer, tentu ia lebih sering berteman dengan kaum pria. Kira-kira apa saja yang dialami Kak Amha saat menjadi seorang videografer wanita? Simak lebih lanjut ya, <em>Myns</em>.</p>



<p class="has-text-align-justify"> Dengan latar belakang pendidikan yang tidak berhubungan dengan dunia seni dan media, apa yang membuat seorang Kak Amha dengan latar belakang marketing ini terjun ke dunia videografi? “Waktu SMA itu sering dapat tugas video, dan aku yang <em>handle</em> untuk bagian <em>editing</em> dan konsepin, <em>nggak </em>tahu kenapa suka aja,” katanya. Sejak saat itu, banyak dari lingkungan Kak Amha sebagai seseorang yang jago <em>editing </em>video. Meskipun ingin sekali menggeluti bidang ini dengan mengambil jurusan perfilman atau komunikasi, namun, jalan hidupnya mungkin tidak disana dan malah diterima di bidang marketing. Tetapi ini tidak menjadi sebuah halangan untuk Kak Amha mengasah keterampilan yang dimilikinya dalam bidang videografi.</p>



<p class="has-text-align-justify">Kak Amha tetap telaten dan mengasah keterampilan yang terpakai di perkuliahan dan organisasi. Memang, jika kita bekerja keras, pasti akan diberikan jalan. Dari sana, Kak Amha mulai dikenal di kalangan teman universitasnya, terutama saat ia menjadi juara di perlombaan yang berhubungan dengan videografi. Sejak itu, mulai berdatangan <em>project</em> yang memerlukan jasa Kak Amha. “Yang dari awalnya cuma 300ribu, sampai pernah satu hari <em>shoot</em> itu 3juta,” tambahnya.</p>



<p class="has-text-align-justify">“Karena bidang ini cepat dan kadang ada <em>trend</em> yang harus cepat beradaptasi dan belajar, investasi di bidang ini <em>nggak</em> hanya alat, tetapi ilmu,” sebuah <em>statement</em> yang dikeluarkan oleh Kak Amha pada saat perbincangan di <em>TheWomyn Talk</em> ini menjadi bahan pikiran. Meski terlihat jasa yang diberikan simpel, tetapi, tetap ada perkembangan yang harus diikuti, terutama jika produksi video untuk pemasaran, yang mana memerlukan sedikit <em>clickbait</em> untuk menarik para <em>audience</em>. Tentu hal ini tidak ada diajarkan secara teoritis harus bagaimana, maka perlu untuk seorang videografer tetap waspada akan <em>trend</em> yang sedang <em>hits</em> dan juga belajar untuk memproduksi sebuah video yang unik dan beda dari videografer lainnya.</p>



<p class="has-text-align-justify">Bergerak di bidang jasa seperti videografi ini tentu memiliki tantangan tersendiri, salah satunya adalah menghadapi keinginan <em>client</em>. Untuk bisa mendapat kepercayaan dari <em>client</em> tentu susah, apalagi jika memenuhi seluruh keinginan <em>client</em>, mengingat jenis-jenis <em>client </em>yang dihadapi tentu berbeda. Tetapi, yang menjadi <em>trick</em> Kak Amha agar hubungan dengan <em>client</em> terjalin dengan baik adalah menyetujui konsep apapun yang diminta oleh <em>client</em>, baik jika konsep tersebut susah untuk direalisasikan atau bahkan belum pernah dicoba. Penting untuk seorang videografer menyetujui terlebih dahulu lalu mempelajari kemudian. Jika memang dalam prosesnya tidak bisa merealisasikannya, maka videografer harus memberikan alternatif dan meminta maaf kepada <em>client</em>. Dengan demikian, <em>client</em> juga merasa bahwa videografi ini telah berusaha untuk mempelajari konsep dan mengaplikasikannya namun karena satu dan lain hal, konsep ini tidak bisa direalisasikan.</p>



<p class="has-text-align-justify">Selain tantangan mengurus <em>client</em>, juga terdapat tantangan fisik, yang mana seorang wanita cenderung harus mengangkat peralatan yang cukup berat. Belum lagi untuk <em>shooting</em> tentu perlu stamina dan energi yang cukup. <em>But</em>, <em>no worries</em>, cukup di jalani saja, nanti badan kita akan terbiasa dengan banyaknya energi yang dikeluarkan dan tidak lagi terasa lelah.</p>



<p class="has-text-align-justify">Selain membahas mengenai videografi, Kak Amha juga memberikan beberapa <em>insights</em> mengenai cara meng<em>handle</em> <em>client</em> dan <em>tips </em>dan <em>tricks </em>untuk mendapat <em>repeat order</em>. Tentu, hal ini sangat penting, jika <em>client </em>puas, maka kemungkinan <em>client</em> ini menggunakan jasa kita kembali cukup tinggi. Maka dari itu, jangan lupa saksikan <em>TheWomyn Talk</em> episode kali ini di <em>YouTube</em>nya <em>TheWomyn</em>, ya!</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="TheWomynpreneur Talk EP 6 with Nur Rahmah Fadhiyah Videographer &amp; Part of @bercerita.kita" width="1220" height="686" src="https://www.youtube.com/embed/2-R2w6hb60k?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://thewomyn.com/2021/07/19/yuk-intip-formula-menggeluti-dunia-videografi-dari-nur-rahmah-fadiyah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Konten Viral Bangun Brand Awareness Ala Shinta Wanda Kusuma</title>
		<link>https://thewomyn.com/2021/07/01/konten-viral-bangun-brand-awareness-ala-shinta-wanda-kusuma/</link>
					<comments>https://thewomyn.com/2021/07/01/konten-viral-bangun-brand-awareness-ala-shinta-wanda-kusuma/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dhea Noveria]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2021 07:56:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[TheWomynpreneur Talk]]></category>
		<category><![CDATA[Cleosa Agency]]></category>
		<category><![CDATA[Digital Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Shinta Wanda Kusuma]]></category>
		<category><![CDATA[Thewomyn]]></category>
		<category><![CDATA[thewomynpreneur talk]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thewomyn.com/?p=1154</guid>

					<description><![CDATA[Membangun suatu bisnis tentu tidak gampang, ada banyak hal yang perlu menjadi bahan pertimbangan dan perhatian agar bisnis tersebut bisa berjalan dengan lancar, salah satunya &#8230; ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-text-align-justify">Membangun suatu bisnis tentu tidak gampang, ada banyak hal yang perlu menjadi bahan pertimbangan dan perhatian agar bisnis tersebut bisa berjalan dengan lancar, salah satunya adalah sebuah <em>brand awareness</em>. Memang seberapa penting sebenarnya <em>brand awareness </em>ini? Tak perlu khawatir, <em>Myns</em>, tim <em>The Womyn</em> telah mengadakan sesi <em>talkshow</em> dan diskusi dengan salah satu wanita yang ahli di dunia marketing. Ia adalah Shinta Wanda Kusuma. Selain menjadi seorang <em>Digital Marketing Trainer</em> di GoJek, ia juga adalah kontributor pada <em>Womenwill</em> yang diadakan oleh <em>Google</em>. Ssttt, tapi jangan salah,<em>Myns</em>. Kak Shinta ini juga <em>owner</em> dari salah satu <em>talent agency</em> di Bandung <em>lho</em>, namanya <em>Cleosa Kids Agency</em>. Kira-kira apa saja yang menjadi pembahasan dengan Kak Shinta, ya? Simak lebih lanjut, <em>Myns</em>!</p>



<p class="has-text-align-justify">Menurut Kak Shinta sendiri, <em>marketing</em> dan <em>branding</em> ini adalah kedua elemen yang penting untuk para pelaku UMKM. Baik dari segi <em>marketing</em> maupun <em>branding</em> tujuan dari kedua kegiatan ini adalah untuk meningkatkan penjualan produk ataupun jasa. Semakin meningkatnya penjualan tentu sebuah UMKM akan tetap terus berkembang dan tetap kokoh.</p>



<p><strong>Baca juga</strong>: <a href="https://thewomyn.com/2021/07/01/menjadi-seorang-penulis-ala-savitri-fadhilla-u/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Menjadi Seorang Penulis ala Savitri Fadhilla U</a></p>



<p class="has-text-align-justify">Seperti yang kita ketahui juga, <em>nih</em>, <em>Myns</em>, kini para pelaku UMKM ataupun <em>startup</em> mulai beralih ke <em>digital marketing</em> dengan memaksimalkan sosial media yang ada. Namun, tak sedikit juga perusahaan besar masih menggunakan <em>traditional marketing</em> yaitu dengan menggunakan <em>banner</em>, iklan di media seperti televisi dan radio, dan masih banyak lagi. Tapi yang membuat para pelaku UMKM ini beralih ke <em>digital </em>ini sebenarnya apa<em>,sih</em>? Menurut Kak Shinta, faktor pertamanya adalah dari segi biaya. Dengan memaksimalkan jasa iklan di <em>Facebook</em> atau <em>Instagram</em> yang lebih bisa menjangkau pasar lebih banyak dibandingkan dengan iklan di media harga dan biaya yang dibayarkan lebih murah dan sebanding. Faktor kedua adalah dengan menggunakan media sosial, sebagai pemilik UMKM lebih bisa berinteraksi dengan calon pembeli, sehingga terjadi komunikasi dua arah yang tidak dapat ditemukan di <em>traditional marketing</em>. “Kalo kontennya viral, misalnya kontennya menarik dan banyak yang suka, serta views-nya naik, kita bisa menjadi <em>trending</em>, dan ini adalah salah satu sarana <em>branding</em>” kata Kak Shinta. Dengan konten viral ini tentu akan berkontribusi pada pembangunan <em>brand awareness</em> sendiri.</p>



<p class="has-text-align-justify">Dari sejumlah media sosial yang ada, pernahkan terbesit di pikiran kamu kira-kira media sosial mana yang harus digunakan? “Menurut riset tahun 2021, Instagram, Facebook, TikTok, YouTube dan Blogger adalah 5 media sosial yang paling mendominasi” kata Kak Shinta. Namun, tidak harus kamu pakai semua <em>platform</em> itu juga, <em>lho</em>. Sebagai pelaku UMKM tentu harus dipelajari terlebih dahulu <em>market</em> yang ingin dituju, sehingga dengan bantuan segmentasi target pasar tersebut, maka <em>effort</em> yang dikeluarkan akan sebanding dengan <em>feedback</em> yang didapat.</p>



<p class="has-text-align-justify">Namun, sekarang, kira-kira gimana cara bangun <em>brand awareness</em> itu sendiri, ya? Setelah mendengar <em>insights</em> dari Kak Shinta. Bisa kita rangkum bahwa untuk meningkatkan <em>brand awareness</em> ini tidak mudah, elemen-elemen yang telah disebutkan secara garis besar di atas juga merupakan langkah yang perlu diambil untuk membangun <em>brand awareness</em> itu sendiri. Eitsss, tapi tenang, <em>Myns</em>. Kami telah merilis hasil <em>talkshow</em> ini di <em>YouTube</em> dari <em>TheWomyn</em> sendiri. Disana, Kak Shinta telah membahas secara rinci tahapan-tahapan yang perlu diambil untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat yang ujung-ujungnya bisa meningkatkan omset. Jangan lupa ditonton, ya!</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="TheWomynpreneur Talk Ep. 4 with Shinta Wanda Kusuma Digital Marketer Trainer Gojek Indonesia" width="1220" height="686" src="https://www.youtube.com/embed/LKXccBriBLk?start=92&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://thewomyn.com/2021/07/01/konten-viral-bangun-brand-awareness-ala-shinta-wanda-kusuma/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjadi Seorang Penulis ala Savitri Fadhilla U</title>
		<link>https://thewomyn.com/2021/07/01/menjadi-seorang-penulis-ala-savitri-fadhilla-u/</link>
					<comments>https://thewomyn.com/2021/07/01/menjadi-seorang-penulis-ala-savitri-fadhilla-u/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dhea Noveria]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2021 07:26:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[TheWomynpreneur Talk]]></category>
		<category><![CDATA[content writing]]></category>
		<category><![CDATA[copywriting]]></category>
		<category><![CDATA[Savitri Fadhilla U]]></category>
		<category><![CDATA[Thewomyn]]></category>
		<category><![CDATA[thewomynpreneur talk]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thewomyn.com/?p=1152</guid>

					<description><![CDATA[Content writer dan copywriter , kedua pekerjaan ini sedang sangat hot menjadi perbincangan dan incaran para wanita sekarang. Dulunya, mungkin pekerjaan ini masih belum banyak &#8230; ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-text-align-justify"><em>Content writer</em> dan <em>copywriter</em> , kedua pekerjaan ini sedang sangat <em>hot</em> menjadi perbincangan dan incaran para wanita sekarang. Dulunya, mungkin pekerjaan ini masih belum banyak diketahui dan masih menjadi sebuah “lelucon” bagi masyarakat. Tak sedikit yang berpikir bahwa karena tugas utamanya menulis, terkadang sering dianggap sepele. Namun, kenyataanya kedua jenis pekerjaan menulis tersebut memerlukan kekuatan ekstra untuk menghasilkan tulisan sempurna, lho!, lalu apa sih perbedaan dari keduanya. Penasaran apa saja? Baca terus sampai akhir, ya!</p>



<p class="has-text-align-justify">Savitri Fadhilla U, seorang <em>copywriter</em> dan reporter dari Pikiran Rakyat Media Network, telah diundang sebagai pembicara untuk <em>TheWomyn Talk </em>episode 1. Beliau berkata bahwa perbedaan diantara <em>copywriting</em> dan <em>content writing</em> tersendiri cukup banyak, baik dari segi tujuan maupun hasil dan faktor eksternal lainnya, belum lagi cara penulisan dan strategi yang diperlukan agar menghasilkan sebuah karya yang sesuai.</p>



<p class="has-text-align-justify">Pertama-tama, <em>copywriting</em> dan <em>content writing</em> ini berbeda dari segi tujuan penulisannya. Hal ini yang menjadi landasan dari segala faktor dan perbedaan lainnya. <em>Copywriting</em> sendiri merupakan tulisan yang bertujuan untuk mempromosikan atau <em>marketing</em>. Tentu hasil tulisannya harus bersifat informatif dan persuasif seperti memberikan informasi kepada calon pembeli mengenai keunggulan produk atau jasa, namun ia juga harus mempunyai elemen mengajak di pembeli tersebut untuk membeli produk atau jasa tersebut. Sedangkan, untuk <em>content writing</em> sendiri tidak terlalu memiliki tujuan yang spesifik, tulisannya lebih bersifat informatif dan edukatif karena tujuan penulisannya hanyalah sebagai media informasi bagi pembaca.</p>



<p><strong>Baca juga</strong>: <a href="https://thewomyn.com/2021/05/21/mempertahankan-bisnis-di-tengah-pandemi-ala-valeria-nisatama-ceo-dari-celosia-etnik/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Mempertahankan Bisnis di Tengah Pandemi ala Valeria Nisatama, CEO dari Celosia Etnik</a></p>



<p class="has-text-align-justify">Berdasarkan pengertian secara umum di atas, maka apakah bisa disimpulkan bahwa <em>copywriting</em> lebih sulit untuk ditulis dibandingkan dengan <em>content writing</em>? Jawabannya, tentu iya. Seorang <em>copywriter</em> umumnya mendapatkan tugas cari <em>client</em>, maka bisa dikatakan bahwa hasil <em>copywriting</em> tersebut harus bisa memenuhi ekspektasi <em>client </em>tersebut. Dan perlu diketahui bahwa setiap <em>client</em> memiliki ciri khasnya masing-masing, sama seperti produk yang ingin dipasarkan. Tentu trik untuk menulis sebuah <em>caption</em> untuk produk baju akan berbeda dengan produk makanan. Hal inilah yang dituturkan oleh Kak Savitri di <em>TheWomyn Talk</em>.</p>



<p class="has-text-align-justify">Meskipun <em>copywriting</em> memiliki tantangannya tersendiri, ini bukan berarti <em>content writing</em> tidak memiliki tantangan. “Jadi sebenarnya di portal aku mewajibkan 10 artikel per hari”, kata Kak Savitri. Maka bisa dilihat bahwa sebagai seorang reporter yang menyediakan tulisan informatif juga memiliki tantangannya. Ia harus mencoba mencari <em>angle</em> lain dari sebuah berita. Hal ini karena di dunia berita dan media, tentu kita sering sekali melihat ada tulisan dan berita yang serupa dari beberapa sumber atau portal. Nah, inilah yang menjadi tantangan selanjutnya. Untuk bisa mencari suatu <em>angle</em> tentu perlu riset lebih dan ide kreatif untuk mengulik sebuah isu. Tantangan lainnya juga bisa dilihat dari bagaimana seorang <em>content writer </em>atau reporter harus bisa menulis sejumlah artikel dalam hitungan hari. Tentu tidak jarang si penulis akan mengalami <em>writer block</em> dimana ia sudah kesulitan untuk menulis karena kehabisan ide, atau faktor lainnya.</p>



<p class="has-text-align-justify">Kira-kira dalam menghadapi tantangan bagi seorang <em>copywriter </em>dan <em>content writer</em> itu harus gimana, <em>sih</em>? Serta, bagaimana cara menulis sebuah <em>copywriting</em> atau <em>content writing </em>yang tidak hanya informatif dan berbobot, tetapi juga menarik pembaca? Jangan lupa tonton seri <em>TheWomyn Talk</em> kali ini di <a href="https://youtu.be/b82HFb6jhNs"><em>YouTube Channel</em> <em>TheWomyn</em></a>, <em>ladies</em>. Ssssttttt, ada <em>tips</em> khusus dari Kak Savitri, <em>lho</em>!</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="TheWomyn Talk EP. 1 with Savitri Fadhilla U Copywriter dan Reporter Pikiran Rakyat Media Network" width="1220" height="686" src="https://www.youtube.com/embed/b82HFb6jhNs?start=236&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://thewomyn.com/2021/07/01/menjadi-seorang-penulis-ala-savitri-fadhilla-u/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
