<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>anak &#8211; The Womyn</title>
	<atom:link href="https://thewomyn.com/tag/anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://thewomyn.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 Jun 2021 02:45:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://thewomyn.com/wp-content/uploads/2021/03/cropped-favico-32x32.png</url>
	<title>anak &#8211; The Womyn</title>
	<link>https://thewomyn.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Anak Dikasih Uang Jajan Akan Semakin Manja, Mitos atau Fakta?</title>
		<link>https://thewomyn.com/2021/06/14/anak-dikasih-uang-jajan-akan-semakin-manja-mitos-atau-fakta/</link>
					<comments>https://thewomyn.com/2021/06/14/anak-dikasih-uang-jajan-akan-semakin-manja-mitos-atau-fakta/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dhea Noveria]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2021 02:45:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Family]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Uang]]></category>
		<category><![CDATA[uang jajan anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thewomyn.com/?p=1112</guid>

					<description><![CDATA[Dear,Myns! Pernah nggak para mommies dihadapi dengan pertanyaan “Ma, adek minta uang jajan, dong, teman-teman di sekolah sudah dapat semua, adek juga mau.” ataupun hal &#8230; ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-text-align-justify">Dear,<em>Myns</em>! Pernah nggak para <em>mommies</em> dihadapi dengan pertanyaan “Ma, adek minta uang jajan, <em>dong</em>, teman-teman di sekolah sudah dapat semua, adek juga mau.” ataupun hal yang serupa? Namun, sering sekali ini menjadi perdebatan,<em> lho</em>. Jika sang anak diberi uang di masa yang terlalu cepat, ia akan belajar tidak menghargai uang tersebut karena bisa didapat dengan mudah, sama halnya jika uang tersebut diberikan dalam jumlah yang banyak.</p>



<p class="has-text-align-justify">Tetapi hal ini dibantah oleh<a href="https://media.ally.com/leadership-morais" target="_blank" rel="noreferrer noopener"> Diane Morais</a>, seorang Presiden di divisi Konsumen dan Produk Komersial di Ally Bank. Ia mengatakan bahwa salah satu keunggulan yang sangat dominan jika sang anak diberi uang jajan adalah para orang tua bisa mengajarkan konsep uang tersebut kepada anak. Memang, tidak bisa dibantah, meskipun di sekolah diajarkan matematika yang bisa membantu si buah hati menghitung uang, tetapi tidak ada pelajaran yang mengajarkan bagaimana mereka mengenalnya, seperti berapa persen yang seharusnya ditabung dan berapa persen maksimal yang harus dikeluarkan. Tentu dengan adanya komunikasi yang baik antar orang tua dan anak, pengajaran ini bisa disampaikan dengan baik.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter is-resized"><img fetchpriority="high" decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/mMNHkOhYGkORza-1dsJRleMskPA68-u5HTkvTKOrAoYLG8ahINBkLhtXGK9iovgtIYUgXXWdetNcMyr-I9-R_7-mtnE8fdZkZP_sTUb8guH6kkJdA1xnfWO4tIHVIbmYPXVaCS5T" alt="" width="838" height="559"/><figcaption>Credits: Unsplash.com</figcaption></figure></div>



<p class="has-text-align-justify">Perdebatan ini kemudian berlanjut dimana ada sekelompok orang beranggapan memberikan uang jajan sebagai wujud apresiasi setelah anak mengerjakan pekerjaan rumah seperti membersihkan rumah dan membuang sampah. Konsep ini akan mengajarkan si buah hati bahwa konsep uang itu bisa didapatkan setelah adanya usaha yang dilakukan. Namun, di satu sisi, sekelompok orang mengatakan bahwa pengajaran dengan konsep ini tidak boleh dilakukan karena pekerjaan rumah seharusnya menjadi kewajiban anak-anak dan mereka tidak seharusnya diajarkan bahwa uang bisa didapatkan semudah itu. Tentu dari perdebatan ini bisa disimpulkan bahwa tidak ada yang valid dan benar mengenai cara pengajaran konsep uang pada si anak.</p>



<p class="has-text-align-justify">Namun, kapan seharusnya sang anak diberikan uang jajan? Jika terlalu dini apakah akan membuat dia menjadi manja? Untuk pertanyaan yang satu ini tidak ada jawaban yang pasti karena pemahaman mengenai uang berbeda pada setiap anak. Tetapi ditulis di buku “<em>The Opposite of Spoiled: Raising Kids Who Are Grounded, Generous and Smart with Money</em>” oleh Ron Lieber bahwa anak yang mulai bijak untuk meminta kepada orang tua akan kebutuhan atau keinginannya sudah siap untuk diberi uang jajan. Ini bisa dilihat dari bagaimana sang anak menanyakan harga sebelum membeli dan sering menanyakan tentang cara kerja uang.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter is-resized"><img decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/o7EiA3n0Et3p8Wym-J0zEXCDyLLcylCg6_tOp7xLaTVwWsRdIFyCooC-fXCNLSx4saMXAwV51QBjFDFcxfiYntRrlEyC2igZd9_bOCJElygwjWIhh5E0gZ3_tNAQ2D3TT203YWiD" alt="" width="840" height="560"/><figcaption>Credits: Unsplash.com</figcaption></figure></div>



<p class="has-text-align-justify">Setelah mengetahui bagaimana cara mengajarkan konsep uang kepada si buah hati, tentu sekarang para <em>mommies</em> bertanya-tanya jumlah uang jajan yang optimal di kisaran berapa, ya? Sayang sekali, untuk pertanyaan ini tidak ada angka pasti, <em>mommies</em>. Tentu kisaran uangnya disesuaikan dengan kebutuhan dan perekonomian keluarga. Jika sang anak belum membutuhkan biaya yang cukup besar untuk kebutuhannya, tentu uang jajan yang seperlunya saja.</p>



<p><strong>Baca juga</strong>: <a href="https://thewomyn.com/2021/04/09/menggendong-bayi-terlalu-sering-membuat-bayi-bau-tangan/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Menggendong Bayi Terlalu Sering Membuat Bayi ‘Bau Tangan’?</a></p>



<p class="has-text-align-justify">Kesimpulannya, dalam mengajarkan dan memberikan anak uang jajan, tidak ada cara dan teori yang pasti. Namun, sebagai orang tua, <em>mommies</em>, perlu memperhatikan beberapa faktor sebelum memberikan uang jajan. Pertama, <em>mommies</em> perlu membuat batasan. Dalam pemberian uang jajan perlu adanya kesepakatan antara orang tua dan anak akan jumlah yang diberikan dan jumlah yang diperbolehkan untuk dikeluarkan. Beberapa batasan seperti ini bisa membantu sang anak menumbuhkan pola pikir mengenai uang. Kedua, jangan menjadikan pemberian uang jajan ini sebagai konsep untuk menghukum anak. Jika <em>mommies</em> berhenti memberikan uang jajan karena sikap buruk sang anak, tentu ia akan menjadi lebih khawatir mengenai jumlah uang yang ia punyai. Tetap pastikan <em>mommies</em> memberikan uang jajan sesuai dengan kesepakatan awal. <em>Hopefully</em>, dengan dua upaya ini anak bisa mulai berpikir mengenai konsep uang. <em>Good luck all great mommies</em>!</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://thewomyn.com/2021/06/14/anak-dikasih-uang-jajan-akan-semakin-manja-mitos-atau-fakta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menggendong Bayi Terlalu Sering Membuat Bayi &#8216;Bau Tangan&#8217;?</title>
		<link>https://thewomyn.com/2021/04/09/menggendong-bayi-terlalu-sering-membuat-bayi-bau-tangan/</link>
					<comments>https://thewomyn.com/2021/04/09/menggendong-bayi-terlalu-sering-membuat-bayi-bau-tangan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dhea Noveria]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2021 23:20:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Family]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[Bau Tangan]]></category>
		<category><![CDATA[gendongan]]></category>
		<category><![CDATA[ibi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thewomyn.com/?p=733</guid>

					<description><![CDATA[Pada saat bayi lahir, ia akan menangis, ini yang menunjukkan bahwa bayi tersebut berhasil dilahirkan dan memiliki keadaan yang sehat karena dianggap telah bisa bernafas &#8230; ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-text-align-justify">Pada saat bayi lahir, ia akan menangis, ini yang menunjukkan bahwa bayi tersebut berhasil dilahirkan dan memiliki keadaan yang sehat karena dianggap telah bisa bernafas sendiri tanpa perlu bantuan alat. Demikian pula sebaliknya, jika bayi yang baru lahir tidak menangis, maka ada kemungkinan ia kesulitan untuk bernafas atau kondisi lainnya. Karena bayi juga belum mengetahui cara mengekspresikan dirinya, yang ia lakukan hanyalah menangis. Untuk menenangkan bayi tersebut, orang tua sering menggendongnya. Kerap hal inilah yang dimaksud dengan bayi bau tangan. Istilah ini menggambarkan bayi yang manja. Tetapi, apakah sering menggendong anak bisa membuat anak bau tangan?</p>



<p class="has-text-align-justify">Bayi menangis karena banyak hal seperti lapar, lelah, kesepian atau tidak nyaman. Dengan menangis, ia berkomunikasi dengan orang tuanya akan kondisi atau perasaan yang ia alami. Maka dari itu, untuk menenangkannya orang tua, terutama ibu perlu menggendongnya. Jika bayi ditelantarkan maka bayi akan merasa tidak dibutuhkan dan tidak penting. Tetapi, disisi lain, ibu akan merasa kehabisan tenaga untuk terus mengatasi situasi yang demikian. “Hal ini merupakan hal yang normal dialami oleh ibu di tahun pertamanya,” ujar Dr. Howard. Namun, berdasarkan riset berjudul <em>“Increased Carrying Reduces Infant Crying: A Randomized Controlled Trial” </em>yang ditulis&nbsp; oleh <em>Hunziker UA</em> dan <em>Barr.RG</em> mendapat hasil bahwa bayi yang digendong selama 3 jam sehari lebih sedikit menangis sebesar 43% dibandingkan bayi yang tidak digendong, terutama jika bayi berumur 3 bulan pertama. Maka dari itu, setiap tindakan ibu untuk menenangkan sang anak dengan gendongan sangat memberikan dampak.</p>



<h2 class="wp-block-heading">1. Gendongan Membuat Anak Rileks dan Aman</h2>



<p class="has-text-align-justify">Salah satu cara untuk meredakan tangisan adalah dengan menggendong anak, atau teknik kangguru (<em>skin to skin</em>). <em>Neonatologist</em> telah menemukan bahwa memeluk bayi prematur sedekat mungkin memberikan banyak manfaat. Teori yang sama juga berlaku bagi bayi yang sudah cukup bulan. Bayi akan merasa dekat dan tenang dengan hangatnya pelukan dari sang ibu serta mendengar detak jantung ibunya. Suara jantung ibunya yang terdengar familiar ketika ia masih berada di perutnya membantu bayi menjadi lebih tenang.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading">2. Gendongan Mempererat <em>Bonding</em></h2>



<p class="has-text-align-justify">Baik menggendong dengan menggunakan<em> sling</em> atau tidak, bayi tetap akan merasa aman dan hubungannya terhadap sang ibu juga semakin erat. “Bayi suka dipegang sepanjang waktu, terutama sebelum mereka bisa berjalan sendiri,” ujar Dr. Howard. Keintiman antara ibu dan anak akan semakin meningkat. Ibu bisa berkomunikasi, mencium, memeluk dan memberikan ASI. Semakin sering ibu menggendong sang anak makan semakin besar juga <em>bonding</em> antara ibu dan anak.</p>



<h2 class="wp-block-heading">3. Gendongan Meningkatkan Perkembangan Anak</h2>



<p class="has-text-align-justify">Bayi bisa melihat apa yang dikerjakan orang tuanya karena merasa dekat, hal yang menarik menurut mereka bisa ditiru dan ini merupakan hal baik untuk perkembangan mental sang bayi. Selain menggendong anak, orang tua juga dianjurkan untuk mengajak bayinya berbicara saat digendong untuk meningkatkan kemampuan verbal sang anak. Karena merasa memiliki ikatan yang cukup erat, bayi akan cenderung lebih nyaman dan perkembangannya akan lebih stabil dan konsisten.</p>



<p class="has-text-align-justify">Perlu diingat, tidak setiap waktu bayi perlu digendong, Biasanya, bayi yang berusia 6 hingga 9 bulan sudah mulai memahami lingkungan sekitarnya. Maka pada saat ini orang tua bisa lebih memilih bagaimana cara menenangkan sang anak daripada menggendong. Kebiasaan untuk menggendong bayi dalam waktu yang lama bisa berakibat buruk pada kemampuan motoriknya.</p>



<p class="has-text-align-justify">Kesimpulannya, menggendong bayi tentu tidak membuat bayi tersebut bau tangan. Bayi memang seharusnya dan sebaiknya diberikan sentuhan fisik agar dia merasa aman dan hangat. Terlebih lagi, sentuhan fisik yang diberikan seperti menggendong jika dilaksanakan sesuai dengan porsinya maka bisa membantu sang anak berkembang lebih stabil dan konsisten. Jangan hiraukan perkataan orang mengenai memanjakan anak dengan menggendong merupakan hal yang tidak baik ya, <em>moms</em>!</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://thewomyn.com/2021/04/09/menggendong-bayi-terlalu-sering-membuat-bayi-bau-tangan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Persiapkan Masa Depan Cerah Si Kecil Dimulai dari Pemberian MPASI</title>
		<link>https://thewomyn.com/2021/04/01/mpasi-untuk-bayi-6-bulan-penting/</link>
					<comments>https://thewomyn.com/2021/04/01/mpasi-untuk-bayi-6-bulan-penting/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dhea Noveria]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Apr 2021 04:13:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Family]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thewomyn.com/?p=698</guid>

					<description><![CDATA[&#160;Umumnya, bayi yang berumur 6 – 24 bulan akan diberikan MPASI (Makanan Pendamping ASI). Hal ini karena ASI sudah tidak lagi cukup untuk memberikan nutrisi &#8230; ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>&nbsp;Umumnya, bayi yang berumur 6 – 24 bulan akan diberikan MPASI (Makanan Pendamping ASI). Hal ini karena ASI sudah tidak lagi cukup untuk memberikan nutrisi bagi sang anak. Pada masa pemberian MPASI ini juga sangat perlu diperhatikan. Berdasarkan riset, telah ditemukan bahwa banyaknya kasus&nbsp; bayi yang terkena malnutrisi karena pemberian MPASI yang salah. Kondisi seperti itu tentu akan memberi efek jangka panjang terhadap si bayi saat ia tumbuh. Sebelum mengetahui cara pemberian MPASI yang benar, perlu diketahui manfaat MPASI untuk si buah hati terlebih dahulu. <em>Check it out, moms!</em></p>



<ol class="wp-block-list"><li>Mencegah penyakit metabolik saat dewasa</li></ol>



<p>Seperti yang disebutkan sebelumnya, pemberian MPASI yang salah bisa berakibat fatal pada sang anak dalam jangka panjang. MPASI ternyata memiliki dampak untuk mencegah anak mengidap penyakit metabolik seperti penyakit jantung, diabetes, kanker dan sebagainya. Jika terjadi malnutrisi pada anak, maka bisa memicu timbulnya penyakit-penyakit tersebut. Tentu itu akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak.</p>



<ol class="wp-block-list" start="2"><li>Tumbuhnya kemampuan kognitif</li></ol>



<p>Karena ASI hanya mampu memberikan 70% gizi yang diperlukan bayi pada masa ini, tentu MPASI memberikan dukungan kepada sang bayi untuk menumbuhkan kemampuan kognitifnya. Studi yang dijalankan oleh <em>Pediatrics International</em> membuahkan hasil bahwa MPASI membantu perkembangan otak menjadi sempurna. Kemampuan kognitif yang dimaksud disini adalah cara berpikir, bertindak dan mengingat. Atau dengan kata lain, seorang anak yang memiliki kemampuan kognitif yang baik cenderung lebih pintar dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki kemampuan kognitif yang baik.</p>



<ol class="wp-block-list" start="3"><li>Mencegah anemia</li></ol>



<p>Kurangnya darah pada bayi sering terjadi pada saat umurnya mencapai 6 – 24 bulan juga. Dengan memberikan MPASI, bayi bisa&nbsp; mendapat nutrisi tinggi sehingga tubuh juga memproduksi zat besi untuk mencegah terjadinya anemia. Kandungan gizi lain yang diperlukan si kecil bisa berupa vitamin dan zinc, kandungan tersebut bisa ditemukan di MPASI yang diberikan. Pastinya, MPASI harus diberikan secara benar agar bisa mencapai manfaat ini.</p>



<ol class="wp-block-list" start="4"><li>Mencegah diare dan infeksi</li></ol>



<p>Bayi yang berumur 6 – 24 bulan belum memiliki kekebalan tubuh yang kuat sehingga sangat berisiko untuk terjangkit penyakit dan infeksi. Dengan terjadinya malnutrisi semakin mendukung sang bayi menjadi sakit. Dua bagian yang perlu diperhatikan adalah saluran pernafasan dan pencernaan. Jangan salah, <em>moms</em>. MPASI yang tidak sesuai bisa menyebabkan si buah hati juga terkena infeksi pada saluran pernafasan,<em>lho</em> selain daripada saluran pencernaannya.</p>



<p>Setelah mengetahui manfaat MPASI yang sangat beragam dan penting untuk kesehatan si buah hati, tentu para <em>mommies</em> penasaran dengan pemberian MPASI yang benar dan baik itu seperti apa. Simak selanjutnya!</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Tepat Waktu</li></ol>



<p>MPASI harus diberikan tepat pada waktunya disaat sang buah hati memang sudah kurang mendapat nutrisi dari ASI. Menurut IDAI dan WHO, umumnya diberikan pada saat bayi menginjak 6 bulan, tetapi ada juga beberapa kondisi seperti berat badan yang tak lazim yang membuat bayi harus diperiksa oleh dokter dan mendapat persetujuan untuk pemberian MPASI. Menurut dokter, tanda kesiapan bayi menerima MPASI bisa berupa saat si kecil mulai menyukai makanan serta kebiasaan untuk “melepeh” makanan berkurang.</p>



<ol class="wp-block-list" start="2"><li>Cukup</li></ol>



<p>Dengan tujuan pemberian gizi yang tidak bisa dipenuhi oleh ASI, menu MPASI juga bervariasi tetapi perlu diperhatikan bahwa menu tersebut harus memenuhi sumber karbohidrat, protein serta vitamin dan mineral. Berikut adalah panduan MPASI yang bisa dijadikan referensi dan acuan para <em>mommies</em>:</p>



<figure class="wp-block-table"><table><tbody><tr><td><strong>Usia</strong></td><td><strong>Jumlah MPASI</strong></td><td><strong>Frekuensi</strong></td><td><strong>Tekstur</strong></td></tr><tr><td>6 bulan</td><td>2-3 sendok makan</td><td>2-3 kali sehari</td><td>Bubur kental (pure), saring, hingga lumat.</td></tr><tr><td>8 bulan(6-9 bulan)</td><td>Tingkatkan bertahap hingga ½ mangkuk 250 ml (200 kkal/hari atau 30% dari target kebutuhan kalori)</td><td>2-3 kali sehari + <em>snack</em> 1-2 kali sehari</td><td>Makanan saring kasar, dapat memulai <em>finger food</em>.</td></tr><tr><td>9-12 bulan</td><td>½- ¾&nbsp; mangkuk 250 ml (300 kkal/hari atau 50% dari target kebutuhan kalori)</td><td>3-4 kali sehari + snack 1-2 kali sehari</td><td>Nasi tim, makanan cincang halus atau kasar.</td></tr><tr><td>12-23 bulan</td><td>¾ mangkuk 250 ml (550 kkal/hari atau 70% dari target kebutuhan kalori)</td><td>3-4 kali sehari + snack 1-2 kali sehari</td><td>Sama dengan makanan yang dimakan keluarga.</td></tr></tbody></table></figure>



<ol class="wp-block-list" start="3"><li>Higienis</li></ol>



<p><em>Mommies</em> perlu menjaga kebersihan makanan yang penyajian makanan untuk si kecil. Karena imun tubuh yang belum kuat, kebersihan makanan yang disajikan sangat memerlukan perhatian ekstra. <em>Mommies</em> bisa menyimpan MPASI di kulkas dengan suhu kurang dari 5 derajat <em>celcius</em> (kulkas bawah). Makanan yang telah dimasak hanya bisa bertahan selama 2 jam, serta peralatan yang digunakan untuk memasak MPASI harus dipisah antara memasak makanan matang dan mentah, seperti talenan dan sebagainya. Makanan MPASI disarankan untuk tidak dibekukan dan kemudian dipanaskan kembali karena gizi yang terkandung juga akan berubah menjadi bakteri ataupun hilang.</p>



<p>Setelah mengetahui cara dan manfaat pemberian MPASI, <em>Mommies</em> boleh mulai Menyusun menu sesuai dengan makanan kesukaan sang buah hati. Jangan lupa MPASI hanya akan bersifat “efektif” untuk kesehatan dan pertumbuhan anak jika disajikan dengan baik dan tepat. <em>Good luck, mommies!</em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://thewomyn.com/2021/04/01/mpasi-untuk-bayi-6-bulan-penting/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Love Bombing – Tingkatkan Kedekatan dengan Sang Anak</title>
		<link>https://thewomyn.com/2021/03/21/love-bombing-tingkatkan-kedekatan-dengan-sang-anak/</link>
					<comments>https://thewomyn.com/2021/03/21/love-bombing-tingkatkan-kedekatan-dengan-sang-anak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dhea Noveria]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Mar 2021 02:04:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Family]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[cara asuh]]></category>
		<category><![CDATA[love bombing]]></category>
		<category><![CDATA[parenting]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thewomyn.com/?p=613</guid>

					<description><![CDATA[Love Bombing, pernahkah kamu mendengar sebutan ini? Benar sekali! Love Bombing merupakan suatu bentuk kasih sayang yang berlebihan, umumnya ini merupakan hal yang baik, tetapi &#8230; ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-text-align-justify"><em>Love Bombing</em>, pernahkah kamu mendengar sebutan ini? Benar sekali! <em>Love Bombing</em> merupakan suatu bentuk kasih sayang yang berlebihan, umumnya ini merupakan hal yang baik, tetapi bagi pasangan, hal ini bisa menjadi tindakan manipulatif untuk mendapatkan kepercayaan pasangan ataupun untuk mempertahankan suatu hubungan. Tentu, <em>love bombing</em> sendiri dipandang sebagai hal yang buruk dalam suatu hubungan antar pasangan. Tetapi bisa menjadi salah satu alat untuk menguatkan hubungan ibu dan anak. Psikolog klinis Dr. Bethany Cook berkata: &#8220;Pada dasarnya, <em>love bombing</em> adalah peningkatan satu tingkat pada <em>quality time</em>.&#8221; Lebih khusus lagi, menurut Reena B. Patel (LEP, BCBA), pakar <em>parenting</em> dan psikolog, bom cinta adalah pendekatan intervensi yang dapat digunakan ketika anak Anda stres, menunjukkan perilaku tantrum atau ketidakpatuhan atau mengalami masa sulit.</p>



<p class="has-text-align-justify">Secara umum, Patel menjelaskan, <em>love bombing</em> menciptakan ruang kesehatan untuk perhatian positif hanya untuk anakmu. Serta ada banyak manfaat terhadap penerapan <em>love bombing </em>ini. Berikut adalah kondisi dimana anak mungkin memerlukan <em>love bombing</em>:</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://thewomyn.com/wp-content/uploads/2021/03/artem-kniaz-DqgMHzeio7g-unsplash-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-615" srcset="https://thewomyn.com/wp-content/uploads/2021/03/artem-kniaz-DqgMHzeio7g-unsplash-1024x683.jpg 1024w, https://thewomyn.com/wp-content/uploads/2021/03/artem-kniaz-DqgMHzeio7g-unsplash-300x200.jpg 300w, https://thewomyn.com/wp-content/uploads/2021/03/artem-kniaz-DqgMHzeio7g-unsplash-768x512.jpg 768w, https://thewomyn.com/wp-content/uploads/2021/03/artem-kniaz-DqgMHzeio7g-unsplash-1536x1024.jpg 1536w, https://thewomyn.com/wp-content/uploads/2021/03/artem-kniaz-DqgMHzeio7g-unsplash-2048x1366.jpg 2048w, https://thewomyn.com/wp-content/uploads/2021/03/artem-kniaz-DqgMHzeio7g-unsplash-90x60.jpg 90w, https://thewomyn.com/wp-content/uploads/2021/03/artem-kniaz-DqgMHzeio7g-unsplash-420x280.jpg 420w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Credits: Unsplash.com</figcaption></figure>



<p>1. &nbsp; &nbsp; &nbsp; Jika anak mengalami kesulitan di sekolah atau lingkungan masyarakat</p>



<p class="has-text-align-justify">Berdasarkan CNN Media, 41% siswa di Indonesia pernah menjadi korban <em>bullying</em>. Namun, kesulitan yang dimaksud bukan hanya mengenai <em>bullying</em>. Adanya konflik internal dengan teman atau lingkungan keluarga juga bisa mempengaruhi kondisi mental anak. Saat itulah, kamu sebagai orang tua, boleh memberikan <em>love bombing</em>, seperti memberikan hadiah, menunjukkan kasih sayang secara fisik, berupa pelukan dan sebagainya. <em>Love bombing</em> yang diberikan diekspektasikan akan membantu anak lebih terbuka terhadap orang tua dan menceritakan masalahnya. Meskipun tidak, perilaku <em>love bombing</em> akan membuat anak menjadi jauh lebih tenang dan mendapat dukungan moral dari orang tuanya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://thewomyn.com/wp-content/uploads/2021/03/jeffrey-f-lin-nEVpAGpTKnI-unsplash-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-616" srcset="https://thewomyn.com/wp-content/uploads/2021/03/jeffrey-f-lin-nEVpAGpTKnI-unsplash-1024x683.jpg 1024w, https://thewomyn.com/wp-content/uploads/2021/03/jeffrey-f-lin-nEVpAGpTKnI-unsplash-300x200.jpg 300w, https://thewomyn.com/wp-content/uploads/2021/03/jeffrey-f-lin-nEVpAGpTKnI-unsplash-768x512.jpg 768w, https://thewomyn.com/wp-content/uploads/2021/03/jeffrey-f-lin-nEVpAGpTKnI-unsplash-1536x1024.jpg 1536w, https://thewomyn.com/wp-content/uploads/2021/03/jeffrey-f-lin-nEVpAGpTKnI-unsplash-2048x1365.jpg 2048w, https://thewomyn.com/wp-content/uploads/2021/03/jeffrey-f-lin-nEVpAGpTKnI-unsplash-90x60.jpg 90w, https://thewomyn.com/wp-content/uploads/2021/03/jeffrey-f-lin-nEVpAGpTKnI-unsplash-420x280.jpg 420w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Credits: Unsplash.com</figcaption></figure>



<p>2. Jika anak berhasil mencapai sesuatu dengan susah payah</p>



<p class="has-text-align-justify">Seperti sebuah penghargaan, anak akan merasa sangat dibanggakan jika orang tua memberikan <em>love bombing</em> saat ia mencapai sesuatu dengan susah payah. Ia akan merasa bahwa orang tua sangat mendukung akan keberhasilannya. Yang paling penting, sang anak juga mengetahui bahwa dibalik kesuksesan yang telah didapatkan, ada orang tua yang selalu senantiasa mendukung. Dengan adanya hal kecil seperti ini bisa membantu membangun hubungan orang tua dan anak yang lebih erat. Dukungan moral seperti ini juga akan membuat sang anak menjadi lebih kuat dalam menghadapi masalah kedepannya. Karena ia telah merasakan buah atas rintangan yang dihadapi, dan juga ada sisi orang tua di belakang yang terus mendukung.</p>



<p class="has-text-align-justify">Setelah mengetahui kapan kamu bisa memberikan <em>love bombing </em>kepada sang anak, bagaimana seharusnya <em>love bombing </em>dilakukan agar anak tidak merasa risih?</p>



<p>1. &nbsp; &nbsp; &nbsp; Berikan aba-aba kepada anak bahwa ia akan segera mendapat <em>love bombing</em>.</p>



<p class="has-text-align-justify">Hal ini bukan berarti kamu harus mengatakannya dalam bentuk pernyataan dan menggunakan istilah <em>love bombing</em>. Kamu juga bisa memberikan sedikit <em>hint</em> bahwa ia akan mendapatkan hadiah atau suatu hal yang memang kamu ketahui sudah ia nanti-nantikan.</p>



<p>2. &nbsp; &nbsp; &nbsp; Jangan bersikap terlalu keras terhadap anak</p>



<p class="has-text-align-justify">Selama ini anak pasti memiliki batasan yang harus diperhatikan, seperti dilarang makan di mobil, dan sebagainya. Ada baiknya jika <em>rewards</em> yang diberikan berupa sedikit toleransi terhadap batasan yang telah dijanjikan kepada anak.</p>



<p>3. &nbsp; &nbsp; &nbsp; Bertanya langsung kepada anak</p>



<p class="has-text-align-justify">Kamu juga bisa bertanya langsung kepada anak mengenai barang fisik yang ia inginkan. Ini merupakan hal termudah yang bisa kamu lakukan daripada bertanya-tanya apa yang anak kamu suka.</p>



<p class="has-text-align-justify">Nah, kini kamu sudah tahu kapan dan dalam bentuk apa <em>love bombing</em> boleh diberikan agar hubungan anak dan orang tua juga berjalan dengan baik. Tetap diperhatikan juga untuk kuantitas dan kualitas <em>love bombing</em> yang diberikan, tanya juga kepada anak jika ia merasa kurang nyaman saat diberikan <em>love bombing</em>. Kedua poin ini sangat perlu diperhatikan ya, <em>ladies</em>! <em>Good luck with the bonding time with your beloved ones</em>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://thewomyn.com/2021/03/21/love-bombing-tingkatkan-kedekatan-dengan-sang-anak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
